Sugeng rawuh..?

Anak didik

1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik

Dalam pembahasan pasal ini lebih dahulu kita ketahui bagaimana pendapat Muhammad Abduh tentang fitrah manusia dalam kaitannya dengan perkembangan anak didik. Menurut Muhammad Abduh sebagaimana dikutip oleh Muhammad Imarah, pada umumnya pendidikan sekolah pada masa Kerajaan Utsmani tidak membuahkan hasil apa-apa, dan para lulusan sekolah-sekolah dasar itu tidak memperhatikan terjadinya proses perkembangan fitrah mereka. Terbukti bahwa perilaku mereka tidak mencerminkan kesucian fitrah mereka.



Kritikan Muhammad Abduh di atas tentang pelaksanaan pendidikan di Kerajaan Ustmani tersebut lebih lanjut dapat dipahami dari pendapatnya bahwa setiap individu memiliki potensi fitri yang baik, namun individu tersebut kemudian dapat berubah-rubah corak dan bentuknya sejalan dengan pendidikan yang ditempuh atau dialaminya. Lebih tegas, ia mengatakan bahwa manusia tidak jadi apa-apa kecuali dengan pendidikan dengan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasul, baik dan aspek hukum, hikmah, dan lain-lain.

Dari keterangan tentang fitrah manusia tersebut di atas, dapat dipahami bahwa menurut Muhammad Abduh, manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memliki potensi-potensi. Dalam kata lain, manusia lahir ke dunia ini tidak seperti kertas kosong sebagaimana dalam teori tabularasa. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah, tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi daripada aliran nativesme dan empirisme.

Lebih lanjut, dalam membicarakan fitrah manusia, Muhammad Abduh pernah mengutip hadits nabi pada pidato resepsi di al-Jami’ah al-Khariyah “kullu mauludin yuladu ala al-fitrah, faabawahu yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi” kata “yuladu ‘ala al-fitrah” adalah menunjukkan pada potensi bawaan manusia, sedangkan tiga fi’il mudhari itu (yuhawidanihi, yunashshiranihi, dan yumajjisanihi,) mengidentifikasikan suatu proses perkembangan anak didik melalui pendidikan. Potensi bawaan (fitrah) ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah.

Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Fitrah aqliyah manusia, erat hubungannya dengan kualitas gizi anak selama dalam kandungan dan selanjutnya disempurnakan dalam masa penyusuan selama dua tahun. Setelah dua tahun kata Andi Hakim Nasution, perkembangan otak akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan sebagai alat kecerdasan tidak berarti lagi. Akan tetapi kecerdasan bayi itu akan bertambah melalui kegiatan fisiknya yang berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam hadits yang menjelaskan tentang fitrah manusia tersebut diatas, dapat dipahami bahwa manusia lahir membawa fitrah. Fitrah lahiriyah berupa potensi aqliyah dan nafsiyah. Kedua fitrah manusia itu berkembang dengan melalui proses pendidikan. Dengan demikian, Muhammad Abduh mengakui pembawaan lahir dan mementingkan proses pendidikan. Jadi jelaslah bahwa Muhammad Abduh sangat dekat dengan aliran konvergensi. Dalam kata lain, proses perkembangan aqliyah dan nafsiyah manusia setelah dua tahun banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan (empiris).

2. Tugas Anak Didik

Tugas sebagai anak didik tentunya bermacam-macam. Ada tugasnya terhadap dirinya, terhadap orang tuanya, terhadap teman-temannya, terhadap gurunya, terhadap pendidikan, dan sebagainya. Tugas anak didik terhadap pendidikan menurut Muhammacl Abduh adalah belajar bersungguh-sungguh. Pendapatnya ini didukung oleh data bahwa ketika ia mengajar di Universitas al-Azhar, mewajibkan mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak boleh memiliki kesibukan selainnya. Ia juga mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti ujian umum tahunan setelah mereka mengikuti ujian sesuai dengan tingkatan, kepintaran, dan kapasitas keilmuan mereka secara lisan.

Dari uraian tersebut di atas tentang kewajiban belajar dan ujian, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh menerapkan disiplin belajar yang baik. Kemudian sistem ujian umum tahunan yang dimaksud berbentuk tes tulis setelah dilakukan tes lisan untuk melihat kemampuan mahasiswa yang variatif. Konsep disiplin belajar yang diterapkan oleh Muhammad Abduh masih relevan sampai sekarang. Sistem boarding school dan beberapa pesantren di Indonesia juga masih menerapkan system ini. Adapun sistem ujian lisan dan tulis inipun masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Dengan demikian, di antara tugas anak didik terhadap pendidikan adalah bersungguh-sungguh belajar. Pendapat Muhammad Abduh berhubungan dengan sifat anak didik yang dikemukakan al-Abrasyi. la berpendapat bahwa diantara sifat anak didik adalah bersungguh-sungguh dan tekun belajar, bahkan untuk mendapat suatu kemuliaan (ilmu) seseorang perlu melakukan sahiru al-lail artinya tidak tidur pada malam hari dengan tujuan lainnya tidak dimasukkan dalam konteks ini.

3. Fungsi Motivasi Bagi Anak Didik

Pada fitrahnya, manusia ingin mulia dan dimuliakan. Salah satu bentuk pemuliaan di sekolah adalah pemberian beasiswa, baik beasiswa prestasi ataupun beasiswa tidak mampu. Dalam hal ini, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas al-Azhar memberikan beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi sebagai motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam belajar. Beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa termasuk leaving cost.

Sistem pendidikan yang memberikan beasiswa adalah salah satu bentuk memotivasi anak didik yang masih relevan sampai sekarang.Beasiswa sebagai reword sangat berguna untuk membangkitkan semangat belajar yang berimplikasi pada kompetisi anak didik, karena pada dasarnya manusia ingin lebih mulia dari yang lainnya. Konsep ini jugalah yang tersirat dalam ayat fastabiqul al-khairat. Muhammad Abduh tidak saja memperhatikan kesejahteraan mahasiswa, ia juga memperlihatkan kesejahteraan guru-guru dengan memberikan perumahan khusus untuk mereka bagi mereka juga disediakan kantor-kantor khusus untuk bekerja.

4. Perpustakaan dan Anak Didik

Belajar untuk memperoleh ilmu tentu tidak cukup hanya didapatkan dari guru. Demi memperluas wawasan, anak didik harus senang membaca. Senang membaca, salah satunya dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Fasilitas perpustakaan adalah salah satu wadah untuk menciptakan cinta membaca. Dalam kaitannya dengan perpustakaan, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas Al-Azhar sangat apresiatif terhadap pengembangan, perpustakaan yang menginventarisir buku-buku. Sebagian perpustakaan itu ditempatkan di masjid-masjid yang dekat.

Oleh sebab itu, Muhammad Abduh menyediakan anggaran (budget) khusus untuk menambah buku-buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan Universitas al-Azhar mengoleksi buku-huku dari berbagai ilmu pengetahuan. Dari penjelasan tersebut di atas tentang perpustakaan, dapat dipahami bahwa lembaga pendidikan tidak bisa terlepas dari perpustakaan, apalagi perguruan tinggi. Di antara fungsi perpustakaan bagi anak didik, yaitu: alat memotivasi untuk cinta membaca, fasilitas untuk memperdalam ilmu, dan membantu anak didik yang tidak mampu membeli buku.

5. Sistem Drop Out dan Anak Didik

Dalam rangka menciptakan kesungguhan belajar anak didik, maka perlu dibuat aturan-aturan, salah satunya adalah sistem droup out. Berkenaan dengan drop out, Muhammad Abduh juga menerapkan sistem ini di Universitas al-Azhar. Paling lama seseorang kuliah di Universitas al-Azhar lima belas tahun. Delapan tahun pertama, mahasiswa bisa mendapatkan ijazah lokal dan empat tahun berikutnya bisa mendapatkan ijazah sarjana. Dari penjelsan tersebut di atas tentang lama masa kuliah dan sistem drop out, maka dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana minimal membutuhkan waktu dua belas tahun. Jika ditarik dalam konteks sistem pendidikan tinggi saat ini, maka masa dua belas tahun bisa sampai pada tingkat doktoral.

Sistem drop out ini diberlakukan oleh Muhammad Abduh di Universitas al-Azhar Mesir. Jika dibandingkan dengan masa studinya dalam menempuh gelar ‘Alim di lembaga pendidikan ini, maka Muhammad Abduh dapat dikatagorikan mahasiswa yang sungguh dalam belajar, karena ia dapat menyelesaikan studinya selama sebelas tahun. Sistem drop out, masih sangat diperlukan dan relevan, khususnya bagi masyarakat yang tidak memiliki budaya yang baik, dalam hal ini budaya rajin dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Suwito dan Fauzan. sejarah. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Bandung: Angkasa. 2003

Imarah, Muhammad. 45 Tokoh Pengukir Sejarah (terj). Solo: Era Intermedia.2007

Mohammad, Herry. dkk.. Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20. Jakarta: Gema Insani. 2006

Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang. 1975

Lubis, Arbiyah. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh, PT. Bulan Bintang: Jakarta. 1993

Suyadi, Abdurrahman Assegaf. Pendidikan Islam Madzhab Kritis, Gama Media: Yogyakarta. 2008

Taufik, Akhmad, dkk. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modemisme Islam. 2004 Andalah pemenangnya

Mohon Maaf kami belum menyediakan....

Facebook Facebook
Facebook
0Blogspot

0 komentar : on " Anak didik "

Poskan Komentar


Teman-Teman Kita