Sugeng rawuh..?

Si Kancil Anak Nakal

Pagi hari yang cerah di desa yang permai, tampak Pak Tani bergegas dengan membawa peralatan taninya menuju ladangnya. Rupanya saat ini di desa mulai memasuki musim kemarau. Berbagai tanaman pangan seperti padi dan sayur-sayuran seperti mentimun memasuki masa panen.
Ketika hari mulai siang, dan terik matahari kian terasa, tampak Si Kancil dari dalam hutan yang berbatasan dengan ladang Pak Tani. Hutan yang lebat pun tidak menjadikan terik matahari teratasi. Suhu yang panas juga dirasakan para penduduk hutan. Kancil terengah-engah dan membutuhkan sesuatu yang segar untuk di makan. Dan timun yang siap di panen, tampak jelas terlihat dari dalam hutan.

“ Wah, mentimun itu tampaknya segar sekali, apalagi aku mulai kepanasan. Tetapi itu milik Pak Tani, ah apa boleh buat, yang penting aku bisa makan”, gumam Si Kancil

Si kancil akhirnya beranjak menuju ladang Pak Tani yang bersebelahan dengan hutan.

“ Hei kau, minggir, jangan halangi aku”, kata Si Kancil dengan angkuhnya.

Si Kancil rupanya berhadapan dengan orang-orangan sawah yang sengaja di buat Pak Tani untuk mengelabuhi hewan-hewan dari dalam hutan supaya tidak mencuri hasil taninya.

“ Eh, berani menantang kau ya! Masih saja tidak minggir, cepat minggir”, kata Si Kancil mulai gusar.

Namun, apa daya orang-orangan sawah. Tidak bergerak dan tidak berkutik apapun. Angin mulai berhembus. Tangan kayu yang berbelut kain kusam terhempas angin dan mengenai kepala Si Kancil.

“ Apa kau ini? Berani sekali, apa maksudmu? Ayo jawab? “, kata Si Kancil marah-marah.

Si Kancil rupanya belum menyadari bahwa yang dihadapinya bukanlah orang sungguhan, tetapi hanya orang-orangan sawah yang tidak mempunyai daya.

“ Oh bisu ya kau rupanya. Sepertinya aku harus menyingkirkan kamu, karena kamu sudah berani sekali denganku, dan aku sudah lapar”, kata Si Kancil yang sudah tidak sabar lagi untuk mengambil timun-timun besar berwarna emas.

Si Kancil akhirnya mulai menendang orang-orangan sawah itu dengan satu kakinya.

“ Hei, kau apakan kakiku ini? Ayo lepaskan! Aku lapar dan hanya ingin mengambil timun emas itu”, kata Si Kancil sambil berusaha melepaskan kakinya yang melekat kuat karena lem.
“ Masih tidak bicara ya kau ini, lepaskan, lepaskan, atau aku berbuat lebih banyak lagi”, kata Si Kancil yang mulai mengayunkan kaki keduanya.
Dan, haap, kedua kaki depan Si Kancil kini sama-sama melekat kuat pada orang-orangan sawah.
“ Masih berani melawan kau ya! Lihat nih, aku masih mempunyai kedua kaki lagi”, kata Si Kancil sambil memberontak untuk melepaskan kedua kakinya.
“ Aduh, ketiga kakiku kamu pegangi sekaligus, memang butuh perlawanan kau ya!”, kata Si Kancil pantang menyerah dan mulai menendangkan kaki terakhirnya di tubuh orang-orangan sawah yang berlumuran lem.
“ Apa sih maumu? Aku hanya lapar dan ingin makan. Maka lepaskan kakiku, perutku sudah berbunyi”, ujar Si Kancil mulai memohon.

Beberapa jam kemudian, datanglah Pak Tani untuk memeriksa keadaan produksi taninya yang esok ingin dipanennya. Dari kejauhan, tampak Si Kancil yang tubuhnya masih melekat pada orang-orangan sawah yang dilumuri lem. Si Kancil rupanya berusaha melepaskan diri, namun tidak berhasil.
Tanpa banyak pikir, Pak Tani langsung bergegas menuju orang-orangan sawah yang telah dibuatnya.

“ Heeh, kau ya rupanya yang selama ini mencuri timunku. Membuat hasil panenku berkurang saja. Kerugianku juga tidak sedikit”, ujar Pak Tani mulai marah.
“ Tidak Pak Tani, aku hanya ingin lewat saja, dan pembantumu ini menghalangiku”, ujar Si Kancil membela diri.
“ Tepat sekali rupanya untuk memberi lem pada orang-orangan ini. Ayo mengaku? Sudah berkali-kali aku melihatmu dengan mata kepala sendiri. Berkali-kali kau mencuri timunku yang sebentar lagi siaop dipanen”, ujar Pak Tani dengan keras.
“ Oh itu bukan saya Pak, sepertinya itu Si Rusa”, kata Si Kancil masih membela diri.
“ Sudah mencuri berani berbohong kau ya! Aku tidak pernah melihat Si Rusa datang ke ladangku. Pokoknya sekarang kau harus bertanggung jawab”, kata Pak Tani sambil melotot-lotot.
“ Kau sudah membuat keluargaku kelaparan berhari-hari karena hasil panenku banyak yang telah kau curi. Pokoknya kau harus menjadi santapan pada acara panen raya nanti”, kata Pak Tani tidak bisa digugat.

Akhirnya Pak Tani melepaskan Si Kancil dari perekat lem di tubuh orang-orangan sawah. Si Kancil dimasukkan ke dalam kandang kayu ayam untuk sementara, karena besok akan dijadikan santapan keluarga Pak Tani yang kelaparan berhari-hari.
Malam harinya Si Kancil bertemu dengan Si Helly, anjing penjaga rumah Pak Tani di malam hari. Si Kancil rupanya tidak kehabisan akal. Ia memanggil Helly untuk berbicara.

“ Helly kemari!”, kata Si Kancil.
“ Hai Kancil, apa yang sedang kau lakukan di dalam kurungan Si Ayam?”, ujar Helly penasaran.
“ Ssst, jangan bilang siapa-siapa ya? Aku di suruh tidur di sini sementara oleh Pak Tani”, ujar Si Kancil.
“ Mengapa begitu wahai Kancil? Kok tidak seperti biasanya?”, ujar Helly mendekat.
“ Iya, karena besok Pak Tani akan mengadakan panen raya. Di rumahnya akan ada pesta besar-besaran. Dan aku akan menjadi bintang tamunya. Aku kan hewan kesayangan Pak Tani!” ujar Si Kancil sambil terus mencari kata-kata.
“ Wah, enak sekali kau Cil? Aku saja yang tinggal lama dan mengabdi kepada keluarga Pak Tani belum pernah seperti itu, padahal aku juga hewan kesayangannya”, ujar Helly sedikit tidak percaya.
“ Oleh karena itu, Hel, aku memanggilmu kemari. Aku ingin sekali mengajakmu untuk menjadi bintang tamu dalam pesta tersebut, dan mendapatkan banyak makan,” ujar Si Kancil merayu.
“ Wah, aku mau, bagaimana caranya Cil?,” ujar Helly ingin tahu.
“ Begini saja Hel, karena aku juga hewan kesayangan Pak Tani, aku akan bicara dengan Pak Tani, agar Pak Tani tidak melupakanmu sebagai hewan kesayangan. Tetapi kamu juga harus menemaniku tidur di sini. Ayo masuk ke sini bersamaku. Angkatlah batu di atas kandang Si Ayam itu!”, perintah Si Kancil.

Helly pun tanpa pikir panjang mengangkat batu yang diletakkan Pak Tani di atas kandang Si Ayam dan segera masuk ke dalam kandang tersebut. Selagi Si Helly masuk, Si Kancil pun pelan-pelan keluar.

“ Hei, Cil, aku sudah di dalam, sekarang masuklah juga, dan kita tunggu esok hari!”, kata Si Helly.
“ Tidak, bodoh sekali kau ya! Sebenarnya aku tidak ingin dijadikan bintang tamu oleh Pak Tani, dan besok juga tidak ada pesta. Terima menuruti semua perintahku”, ujar Si Kancil.
“ Penipu kau rupanya, Cil! Awas kau ya besok. Tidak akan terlepas lagi kau, akan kuceritakan hal ini besok pada Pak Tani”, ujar Helly marah karena sudah dibohongi.
“ Terserah kau saja, yang penting sekarang aku bisa lari!,” ujar Si Kancil sambil berlari menuju hutan dan lenyap oleh gelapnya malam.

Keesokan harinya,

“ Helly, apa yang kau lakukan di situ? Mana Si Kancil?”, ujar Pak Tani.
“ Ampun Pak Tani, Si Kancil ruapnya telah membohongi saya”, ujar Helly meminta ampun.
“ Oh dasar anjing bodoh! Kau biarkan Si Kancil lari begitu saja,” ujar Pak Tani marah.
“ Kaing, kaing, ampun Pak Tani, lain kali tidak akan kubiarkan Si Kancil lari lagi,” ujar Helly sambil berlari karena dipukul Pak Tani.

-– Selesai --

Adik-adik, berdasarkan cerita tadi, ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil :

Kita sebaiknya tidak meniru Si Kancil yang telah mencuri banyak timun hingga keluarga Pak Tani kelaparan. Jika Si Kancil lapar, seharusnya mencari makan sendiri.
Timun kan miliknya Pak Tani, Pak Tani kan telah bersusah payah merawat tanaman timun itu. Kita seharusnya ijin dahulu.
Kita seharusnya tidak rakus dalam memakan makanan hingga membiarkan keluarga Pak Tani kelaparan.
Kita seharusnya tidak berbohong, karena membuat orang tidak percaya lagi kepada kita.
Jika kita berbuat salah, seharusnya meminta maaf.

Nantikan edisi berikutnya ya.., datang selalu di jareperpus.com. Ajak orang tuamu memandumu untuk mendapatkan cerita Si Kancil yang lebih banyak lagi.

Terima kasih.


Mohon Maaf kami belum menyediakan....

Facebook Facebook
Facebook
0Blogspot

0 komentar : on " Si Kancil Anak Nakal "

Poskan Komentar

Teman-Teman Kita